10.25.2006

melipat seprai berkaret

Jaman dahulu kala, saya hanya tahu seprai itu kain berbentuk persegi panjang dijahit sepanjang pinggirannya. Kalau mau dipasang di kasur harus ditali pada sudut-sudutnya sehingga seprai tidak mudah bergeser di kasur.

Jaman sekarang, seprai ternyata sudah menjadi lebih canggih. Demi menghindari kesulitan tali temali bak pramuka, diciptakan seprai yang sudah diberi karet pada pojokannya. Mudah memakai, sulit melipat.

Menurut salah satu pembawa acara bersih-bersih rumah di TV, begini cara melipatnya.









1. Lipat kain pada titik ujung kasur, bukan titik ujung kain. Dalam sisi yang bersamaan seperti sisi kiri kasur atau sisi kanan kasur, satu sudut dilipat ke arah luar, sudut lain ke arah dalam (detail a, detail b).


















2. Masukkan sudut yang dilipat ke arah keluar (a) ke sudut yang dilipat kearah dalam (b)










3. Kerjakan juga yang sisi lain.

4. Seprai akan berbentuk seperti persegi panjang. Lipat seperti biasa.

pecah jerawat (kastengels)

Setelah bertahun-tahun (hiperbola banget) memegang rekor tidak pernah membuat kue, akhirnya di tengah ramadhan tahun ini terpecahkan juga.

Demi memakan kue kastengel karya bibi (tante) yang super enak. Demi menghindari pengiriman kastengel dari Bandung yang akhirnya hancur (bubuk, remuk) ketika sampai disini.

Terpecahkan juga jerawat itu, membuat kue.

Karena sedikit rasa tahu diri yang tidak tahu apa-apa tentang membuat kue, saya meminta ibu ira (pengalaman membuat kue) dan ibu lintang (pengalaman memiliki ibu yang rajin bikin kue) untuk menemani saya membuat kue ini.

Sebagai pembuat kue super amatiran, berbagai kebodohan telah terjadi dalam proses pembelajaran ini.
1. Memesan keju wisjman ke teman yang rumahnya dekat dengan toko asia. Tentu tidak ada, karena yang dimaksud adalah mentega wisjman.
2. Dengan percaya diri tinggi, membeli keju cheddar yang sudah diparut. Tadinya untuk isi kue keju itu, ternyata harus keju jenis lain yang bentuknya seperti bola. Untung si keju cheddar masih bisa dipakai untuk taburan kue.
3. Karena tahunya memakai mentega wisjman, jadi saya mencari pengganti si mentega berkhasiat itu. Ditemukan mentega sejenis di toko lokal 'european style salted sweet cream butter' yang ternyata agak mahal, walau lebih murah dari si wisjman. Karena lagi resepnya ternyata tidak lengkap, belakangan baru diketahui bahwasanya si butter ini hanya dipakai sedikit, bukan untuk semua resep. Hallah rugi banget.. harusnya cukup memakai mentega yang lebih murah, jadi terlalu mahal karena memakai butter.


Hasilnya?
Dengan sedikit kesalahan menghitung ukuran di sana sini (gak punya timbangan gitu loh, plus salah konversi hitungan dari metrik ke inggris), ternyata cukup memuaskan (muji diri gini..). Cukup mirip, sedikit kurang garam, dan banyak usahanya. :D



Mau tahu resepnya?
Bahan :
1. 700 gram mentega kocok (600gr mentega, 100 gr butter)
2. 250 gram keju diparut (keju edam, kejunya orang walanda)
3. 4 butir telur ayam
4. 900 gram terigu
5. Garam secukupnya

Cara :
1. Telur dikocok hingga mengembang
2. Tambahkan mentega kocok
3. Terakhir masukkan terigu. Aduk ! Rasa, kurang asin? tambah garam
4. Diamkan adonan kurang lebih 20 menit
5. Buat adonan panjang bulat ukuran 3 x 1 x 1 cm
6. Taruh di loyang yang telah diolesi mentega
7. Adonan yang telah dibentuk diolesi merah telur
8. Bakar di oven yang telah dipanaskan
9. Jadi deh……

Tidak mau susah-susah bikin?
Silakan hubungi saya, nanti saya mintakan sang bibi tercinta untuk membuatkannya...
Ciye.. promosi...

10.24.2006

mohon maaf lahir dan batin

10.20.2006

PR

Dapet PR dari bu Ira...
euleuh2.. tua2 dapet pr...

APAKAH KAMU :
1. Iri-hati pada orang laen :iyah, iri hati kalau orang lain tak perlu menyeterika dan mencuci botol susu.. curhat...
2. Kamu mengandalkan 'beauty' or 'personality' : gimana yah... dua-duanya ada sih... (huahahahahah)
3. Punya SIM? : surat ijin menikah? tentu ada... eh salah buku nikah itu mah ya
4. Takut kehilangan 'uang' atau 'teman'?: tergantung konteks, kalau malam2 gelap2, takut hilang teman. kalau di restoran bon mau datang, takut hilang uang
5. Berkacamata? : alhamdulillah tidak
6. Suka anak kecil : huss.. ntar dikira phaedophilia pula

PERNAHKAH KAMU:
7. Berpikir tuk operasi plastik: di badan? gak pernah. di tong sampah? sering, operasi memakai ulang plastik sampah dari toko.
8. Memotong sendiri rambutmu? pernah, nekaaaad... (salon mahal sih)
9. Jatuh cinta pada pandangan pertama : tentunya
10. Berpikir untuk mengadopsi anak : anak ular? gak mau. sama ibunya aja takut.
11. Pacaran ama orang yg jauuuh lbh tua :mau tau.. ajjja
12. Cinta bertepuk sebelah tangan? : sama ken ichi di film voltus 5
13. Kehilangan dompet? : hm.. lupa

KUSUKA:
14. Nonton berita? : berita gosip? selalu
15. Pelajaran di sekolah : bukan IPS
16. Tipe cowok/ cewek : yang gak jaim
17. Menu sarapan : kalau dibikinin bubur ayam. kalau bikin sendiri roti isi meses
18. Orang yang sedang kusuka: dhika
19. Penampilan lawan jenis yg kamu sangat suka ngeliyatnya : bukan yang bau (eh itu mah bukan diliat ya?)
20. Band : dah lama gak denger lagu selain 'libur tlah tiba' (itu nama bandnya apa ya?)
21. Tempat: bandung dan restoran kalau dibayarin
22. Baca koran : yang bagian ada kupon
23. Resto fast food: yang buatan dalam negeri deh...
24. TV station: abc
25. Nama untuk anak laki : muhammad
26. Nama untuk anak perempuan : dewi

KESAN PERTAMA KALO DENGER :
27. Koper : jalan-jalan
28. Sekolah : bayarin dong
29. Sapi : mooo....
30. Rizky Hanggono : siapa tuh?

Jam karet

Kabarnya orang Indonesia identik dengan ini, jam karet. Bukan, bukan merk jam. Bukan pula material jam. Tahu sendiri kan apa.

Kalau datang ke suatu acara orang Indonesia, kemudian acaranya berlangsung terlambat, dengan bangga kita selalu mengatakan "kan orang Indonesia, jam karet dong!"

Bukan saya tidak pernah terlambat, bukan saya 'on time freak'. Saya juga masih belajar untuk tidak menjadi orang Indonesia yang bagian ngaret.

Kalau terlambat untuk masuk bioskop atau kelas di sekolah, ini agak-agak sering. Dipikir-pikir lagi, kalau terlambat yang seperti ini sepertinya hanya saya yang rugi (gak juga dong ndew, bapakmu rugi juga, dah bayarin sekolah...--- ya.. gitu deh...).

Tapi kalau untuk kencan, yang tanpa diri saya maka kencannya akan gagal (huehehehe), saya akan serius mengusahakan untuk tidak datang terlambat. (gak juga ya, pak?--hueheheheh)

Atau kalau misalnya arisan (sayang di sini tidak ada arisan, jadi ini ceritanya berkhayal, seandainya saya ikut arisan-- :D ) yang pesertanya lima orang; tiba-tiba, tanpa sengaja tiga orang terlambat masing-masing satu jam. Bukankah lebih baik waktu satu jam yang dipakai oleh dua orang yang datang pertama dipakai keliling-keliling pertokoan terlebih dahulu, daripada menunggu di restoran menghabiskan tiga gelas kapucino (secara boros gitu jadinya). Atau kalau kedua orang itu sepakat untuk main catur dulu, kan mending di rumah aja main caturnya tidak perlu di restoran (ceritanya kan arisannya mau di restoran di salah satu pertokoan terkemuka). Apapun itu bentuknya, mereka yang berdua mungkin bisa memikirkan kegiatan lain yang lebih diperlukan daripada sekedar menunggu tiga orang temannya yang tak kunjung datang.

Ceritanya adalah mencoba untuk menghargai waktu teman yang telah dijanjikan untuk dipakai oleh saya. Saya tahu beliau tidak hanya melulu mengurusi saya, tapi juga punya banyak urusan lain. Jadi, betapa kasihannya beliau jika harus menunggu saya walau hanya satu menit sementara beliau mungkin masih punya sejuta pekerjaan lainnya.
Saya tidak suka kalau harus menunggu orang lain; mengapa orang lain harus suka menunggu saya?

Seperti saya sebutkan di atas; bukan saya tidak pernah terlambat, bukan saya 'on time freak'. Saya juga masih belajar untuk tidak menjadi orang Indonesia yang bagian ngaret.
Kalau jam tidur siang saya bisa bertambah setengah jam sebagai pengganti menunggu teman, menyenangkan sekali bukan?

Seringkali kita mempertanyakan mengapa Indonesia tidak pernah maju. Mungkin salah satunya karena jam orang Indonesia masih salah. Jam baja atau jam besi mungkin harusnya, bukan jam karet.

Kita tidak pernah bilang orang Amerika atau orang Eropa yang disebut-sebut sebagai negara maju memakai jam karet bukan?

Yuk, kita mulai gerakan bebas jam karet di Indonesia, siapa tahu Indonesia jadi lebih maju.
Yah, paling tidak kita mulai belajar tidak merugikan waktu orang lain.

Seperti kata ustadz terkenal Aa Gym, 3M (Muhammad Mahardhika Maulana :D-- bukan ding)
Mulai dari diri sendiri
Mulai dari yang kecil
Mulai dari sekarang

Selamat tinggal mencuci botol susu

Setelah lewat usia satu tahun, dhika anakku dicoba diberi susu sapi murni sebagai tambahan dari ASI. Karena sebelumnya dia hampir tidak mengenal botol susu, jadi saya coba berikan susu lewat gelas anak (sippy cup). Namun tidak berhasil. Dhika mau minum air putih, jus, atau teh manis lewat gelas anak; tapi tidak susu. Sampai pada suatu hari dia menemukan botol susu dan terlihat tertarik memakainya. Langsung saya isi susu murni sapi dan dia mau meminumnya. Alhamdulillah.

Hingga usia hampir dua tahun, dhika minum tiga botol susu dalam seharinya. Pagi, sore, dan malam. Kadang dicampur Pediasure, demi menambah berat badannya yang menurut standar disini agak rendah.

Sampai pada suatu hari, kira-kira satu bulan sebelum ulangtahunnya yang kedua, saya merasa bosan dan lelah mencuci botol susu yang banyak pernak perniknya.

Saya coba untuk tidak memberikan susu di botol susu, melainkan di gelas. Satu hari, dua hari, dhika tidak mau minum susu sama sekali. Hal ini sudah diperkirakan oleh saya, tapi membuat suami saya sangat khawatir. Setelah bertanya ke sana sini, disimpulkan ternyata adalah wajar anak-anak minum susu lewat botol bahkan hingga mereka menginjak usia masuk SD.

Halah, mencuci botol susu sampai 4 tahun ke depan?? No way, Jose!
Tapi bagaimana lagi.. anaknya tidak mau minum susu.
Jadi, dengan target cukup sampai 2,5 tahun saja, saya teruskan dhika minum susu lewat botol susu.

Sampai tidak lama dari percobaan pertama itu, saya bertemu teman baru yang berprofesi sebagai babysitter. Paling senang bertemu teman babysitter, bisa banyak konsultasi. Beliau mendukung saya untuk melepas botol susu. Saya utarakan tentang dhika yang tidak mau minum susu sama sekali. Beliau meyakinkan saya bahwa dhika akan minum susu lagi, paling tidak dalam sebulan.

Setelah sepakat dengan suami, percobaan kedua dilaksanakan.

Kira-kira seminggu dhika tidak mau minum susu sama sekali. Namun setelah itu, Alhamdulillah dia mulai mau minum susu. Segelas dalam sehari, dua gelas, kadang-kadang tiga gelas juga. Ada kalanya dia tidak mau juga minum susu seharian, di saat lain bisa habis tiga gelas.

Berapapun itu, dia minum susu saja saya sudah senang, ditambah bonus 'selamat tinggal mencuci botol susu'. (secara tanpa mencuci botol susu saja sudah banyak kerjaan--ciye.. sok sibuk betul!)

10.12.2006

Mencuci gelas dengan noda membandel

Serasa iklan judulnya... hueheheheh

Pernah punya gelas yang berdaki?

Itu loh, umumnya kalau kita hobi minum teh, mungkin minum kopi juga, gelas kita jadi bernoda hitam atau coklat, jejak si teh atau si kopi.
Begitu juga dengan alat minum si anak, di sini disebutnya sippy cup (gak tahu persis bahasa Indonesianya apa), biasanya memiliki lekak lekuk yang sulit dijangkau ketika mencucinya.
Termasuk juga botol susu anak, kadang kalau sudah lama menjadi agak kehitaman atau ada noda susu yang tidak tercuci.

Dulu saya kira judulnya mencucinya kurang beres. Pernah dicoba digosok-gosok, hilang juga sih dakinya. Tapi tenaga yang terbuang untung menggosok juga lumayan.
Kalau si gelas anak, terlalu banyak sudut-sudut dan lubang-lubangnya. Memang susah aja judulnya. Juga botol susu.

Ternyata mudah saja membersihkannya. Cukup direndam sebentar di dalam larutan air dengan sedikit pemutih (yup, pemutih pakaian, bleach), bilas sebentar dengan air, cuci lagi seperti biasa menggunakan sabun. Hilang nodanya. Noda teh (kopi belum pernah coba), dan noda susu.

Amankah?

Setelah dibaca-baca, sabun mesin pencuci piring (dishwasher) itu isinya konsentrasi pemutih ternyata (bleach concentrate). Produsen botol susu bayi dan gelas anak tidak melarang untuk mencuci produknya di mesin itu. Saya masih ingat, salah satu petunjuk membersihkan gelas anak memang sekali-kali dicuci memakai pemutih. Sabun cuci piring pun sekarang ada yang dicampur dengan pemutih.
Jadi, kira-kira sih aman kayaknya.

Namun biar lebih yakin, baca-baca lagi ya...

10.10.2006

Menyetrika

Pekerjaan paling menyebalkan.
Tidak bisa diborongin, semua harus dikerjakan satu persatu.
Sangat memakan waktu dan tenaga dan keringat (panas menghadapi si setrika panas)
Namun apa daya tak bisa dihindari, apalagi kalau baru mencuci kemeja suami yang akan dipakai bekerja.

Sebagai orang yang dari dulu jarang menyetrika, saya seringkali merasa frustasi jika harus menyetrika kemeja. Tidak tahu harus memulai darimana. Disetrika bagian ini, bagian itu kusut. Tidak pernah selesai rasanya.

Sampai akhirnya pada suatu hari, tante Martha Stewart berbagi ilmu cara menyetrika di salah satu acara TV (kesannya kurang kerjaan ya, acara TV kayak begini..huehehehe).
Maka.. beginilah menurut beliau.

Yang perlu dipersiapkan:
1. Baju yang lembab (kalau keburu kering bisa disemprot-semprot air dulu)
2. Botol semprot
3. Handuk untuk melapisi papan setrika
4. Setrikaan yang berat
5. Papan setrika
6. Kalau perlu dan ada, semprotan untuk baju yang akan membuat baju menjadi lebih kaku (sizing).

Cara menyetrika:
1. Siapkan baju yang lembab
2. Semprot oleh semprotan baju, diamkan beberapa menit agar cairannya meresap ke serat-serat baju
3. Dengan setingan setrika tinggi atau panas, setrika bagian ujung tangan, aduh... apa namanya ya... yang biasanya ada kancingnya, bisa digulung kalau kemeja tangan panjang mau jadi lebih pendek tangannya. Disetrika bagian dalamnya sehingga kancingnya terhindar dari panas setrikaan. Keuntungan papan setrika dilapisi handuk sebelum ditutup oleh kain pelapisnya adalah ketika kita menyetrika dibalik bagian yang berkancing akan tetap menjadi rapi karena benjolan kancing masuk ke dalam handuk sehingga kita tetap mendapatkan permukaan baju yang rata. (pusing ya?!)
4. Dilanjutkan dengan menyetrika lengan
5. Pasang dengan pas di papan setrika, setrika bagian dibawah kerah
6. Setrika kemeja bagian depan dari arah dalam sehingga kancing tidak kepanasan dan kantung tersetrika rapi.
7. Lanjutkan sisi depan lainnya, lalu bagian punggung, jahitan disamping, dan bagian-bagian lainnya.
8. Semprot bagian kerah dengan semprotan baju, ditarik dan dirapikan, lalu disetrika. Lipat kerah, setrika lagi pada bagian lipatannya.
9. Gantung baju yang sudah rapi di gantungan baju dengan mengancingkan kancing paling atas agar tetap pada posisinya.

Lah, kalau gak punya gantungan baju dan harus dilipat gimana?
Maaf, belum nemu yang itu ilmunya...
Huehehehe...
Barangkali ada yang punya... silakan berbagi...

Selamat menyetrika dengan sedikit lebih berteori...

Meyimpan wajan dan panci teflon

Punya banyak wajan dan panci teflon tapi dapur kecil?
Sepertinya tidak dimungkin satu persatu wajan dan panci itu dijajarkan, terlalu memakan tempat.
Sementara kalau ditumpuk, bisa-bisa lapisan teflonnya menjadi rusak.
Sedikit curi-curi ilmu lupa darimana, jika menumpuk panci teflon sebaiknya diberi pelapis tisu makan atau lap diantaranya yang akan menjaga lapisan teflon tergores pantat wajan atau panci diatasnya.

Semoga berguna.
Ada ide lain?

10.06.2006

Ngemut jari

Ngemut jari jempol tangan lebih tepatnya. Hobi banget dhika. Mulai usia 4 bulan, mulai tangannya bisa berkelana ke mulut, mulai mulut menjadi indra utama, jempol tangan adalah sahabat setianya. Dalam suka dan duka, terutama duka sih... lapar... atau ngantuk.... jempol selalu di sana.. di mulutnya...

Awal-awalnya sih lucu.. terlihat pintar... ceritanya menjelajah tangan (exploring). Lama-lama ketagihan, kalau ditarik marah-marah.

Ditanyakan ke dokternya, gak apa-apa katanya, biar aja, nanti juga hilang sendiri. Itu hanya cara dia menenangkan dirinya. Kalau bisa coba digantikan dengan hal lain, boneka misalnya, sarannya.

Dicobalah diberi boneka, awalnya belum laku. Lama-lama.. boneka iya.. jempol pun iya...weleh-weleh...

Ketika dhika sudah disapih dari ASI, terasa juga untungnya dia ngemut jari. Jadi bisa tidur sendiri, tidak terlalu rewel.

Akhirnya terpikir ya sudahlah.. semoga nanti hilang sendiri.

Sampai pada suatu hari, ketika dhika sedang sibuk dengan jempolnya, salah satu omnya bilang 'Wah, giman juga ya ndew". Giman, apaan tuh?
"Gigi mancung", katanya lagi.
Deg!
Langsung deh kepikiran.. kalau giginya betulan jadi mancung.. gak lucu juga kali ya...
Walau sempat berkelit, gak apa-apalah gigi mancung asal dia senang.. toh tinggal dikawatin kalau sudah agak besar.
Yang lebih menakutkan lagi sebenarnya kalau kebiasaan itu dibawa sampai besar. Yang mana adalah sering terjadi.

Sehingga, pada suatu hari, tanpa suatu rencana apapun, iseng-iseng saya plesteri kedua jempolnya kiri dan kanan.

Menurut beberapa pakar sebenarnya tidak dianjurkan karena dinilai 'menyiksa' si anak, mengambil sesuatu yang membuatnya nyaman. Dengan pikiran daripada dia lebih tersiksa lagi kalau sudah besar (malu gitu loh.. ngemut-ngemut jari di kamar kos-an) plus penghematan tidak usah memasang kawat gigi, nekat juga saya plesteri jari-jarinya.

Iseng-iseng berhadiah.
Kalau berhasil alhamdulillah,
kalau tidak berhasil, kita pikirkan lagi.

Sangat mengejutkan.
Hanya dalam dua hari saya plesteri jarinya, dhika lupa dia pernah punya hobi ngemut jari.
Serius, hanya dua hari.
Sangat diluar dugaan.
Selama dua hari itu dia beberapa kali mencoba memasukan jempolnya ke mulutnya tentunya, namun rasa dan teksturnya kan sudah berubah. Sambil digoda-godain, "ih, kok masuk ke mulut". Lama-lama dia malas juga kayaknya.

Setelah dua hari berplester itu terkadang dia tidak sengaja memasukkan tangannya ke mulut, seperti menjilat sisa makanan, baru dia teringat lagi hobi lamanya. "Loh kok enak", mungkin begitu pikirnya. Langsung ditarik tangannya dari mulut, dan saya plesteri lagi untuk sementara waktu.
Lama-kelamaan, cukup dengan ditarik dari mulut tangannya ditambah diberitahu itu jijik, dia tidak mengulangi lagi 'ngemut jari'nya.

Alhamdulillah.

Menyapih

Satu tahun lebih lamanya dhika di beri ASI penuh. Sangat jarang dia meminum susu selain ASI. Selain jarang diberi susu lain oleh ibunya ketika belum berusia setahun, ketika sudah lewat setahun pun dia masih belum mau minum susu non ASI. Sampai akhirnya ketika umur mungkin 14 bulan dia mau juga minum susu murni sapi memakai botol susu.

Sering dengar cerita, kalau menyapih itu sangat menyakitkan buat ibunya. Karena air susu yang biasa diminum si anak tiba-tiba tidak disedot lagi dan menuh-menuhin (membuat penuh) tempatnya. Bisa sampai panas dingin katanya.

Alhamdulillah saya diberi tahu teman, bahwa kalau menyapih itu lebih baik gradual, jangan sekaligus.

Jadi sejak mulai dhika bisa minum susu sapi, jatah ASInya memang saya kurang-kurangi. Dari yang 6 kali sehari, menjadi 5 kali, dan begitu seterusnya sampai akhirnya sehari hanya dua kali.

Kira-kira usia 18 bulan, minum ASI yang sehari dua kali itu dilihat-lihat sepertinya hanya menjadi obat tidur buat dia, bukan buat mengenyangkan perutnya. Diminum sebentar, tidak lama kemudian dia tertidur. Sehingga saya putuskan untuk menghentikan ASInya pada saat itu. Alhamdulillah tidak ada masalah. Susu saya tidak menggembung. Dhika juga tidak terlihat terlalu kehilangan susu ibunya.

Bagaimana caranya dhika tidur? huehehehe...sejak umur empat bulan.. jempolnya memang sudah menjadi salah satu sahabat dia tidur....(masuk ke mulut maksudnya)